You are here: Penelitian Dosen Penelitian 2008 MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

E-mail Print PDF

 

LAPORAN PENELITIAN

HIBAH BERSAING

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,

Departemen Pendidikan Nasional,

sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Nomor: 181/SP2H/PP/DP2M/III/2008, tanggal 6 Maret 2008

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN KUALITAS SANITASI LINGKUNGAN

(STUDI KASUS: KAWASAN PEMUKIMAN BANDENGAN KABUPATEN KENDAL)

PENELITI :

HERMIN POEDJIASTOETI, SSi, MSi.

MILA KARMILAH, ST, MT.

JAMILLA KAUTSARY, ST, MTP.

RINGKASAN DAN SUMMARY

Gambaran umum yang pertama kali dapat dilihat dari kondisi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi dalam kehidupan masyarakat nelayan adalah fakta-fakta yang bersifat fisik berupa kualitas permukiman. Kampung-kampung nelayan miskin akan mudah diidentifikasi dari kondisi rumah hunian mereka yaitu kondisi rumah yang sangat sederhana. Selain kondisi rumah yang sangat sederhana, pemandangan lain yang sering kita jumpai adalah kondisi lingkungan yang kumuh dan terpolusi.

Kondisi yang tidak jauh berbeda dapat kita jumpai di kawasan permukiman nelayan Bandengan Kabupaten Kendal. Kawasan permukiman ini merupakan kawasan relokasi permukiman di bantaran Sungai Kendal yang telah dilaksanakan pada tahun 2003. Kondisi permukiman ini didukung oleh aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat yaitu aktivitas nelayan, sehingga kondisi tersebut saat ini telah jauh menurun terutama dalam penyediaan sanitasi lingkungan baik berupa saluran drainase, persampahan, MCK maupun sarana prasana lingkungan fisik lainnya. Upaya pelestarian lingkungan dan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat juga masih rendah.

Untuk itu penelitian ini pada awal (tahun pertama), telah melakukan verifikasi hasil penelitian sebelumnya terkait dengan kondisi sanitasi, mencoba untuk mengetahui karakteristik sanitasi lingkungan dan karakteristik masyarakat di kawasan permukiman nelayan Bandengan serta bentuk peran serta masyarakat dan modal sosial di permukiman nelayan beserta faktor-faktor penghambat dalam peningkatan kualitas sanitasi lingkungan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Rural Apraisal (PRA), dimana dalam metode ini akan banyak melibatkan masyarakat yang dimulai dari assesment terhadap kondisi kualitas sanitasi lingkungan, kemudian bekerja bersama masyarakat dalam menentukan model yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sanitasi lingkungan di permukiman nelayan (RW IV) Kelurahan Bandengan dilihat dari pemenuhan terhadap sarana sanitasi dasar tergolong masih buruk. Hal ini dapat terlihat dari : 1). kondisi rumah yang belum termasuk kriteria rumah sehat (tidak adanya jamban dalam rumah, belum adanya sarana pembuangan air limbah yang memadai, fasilitas dapur yang masih bergabung dengan kamar mandi / ruang keluarga dan ruang tamu, kandang ternak bersatu dengan rumah, dll). 2). Keberadaan saluran drainase sekaligus sebagai sarana pembuangan air limbah yang ada belum dimanfaatkan dan berfungsi secara optimal karena penuh sampah dan tertutup tanah atau rumput. Selain itu masih banyak air limbah yang menggenang di pekarangan rumah. 3). Pengelolaan sampah mulai dari sumber sampah (rumah tangga) yang dilakukan oleh masyarakat belum berjalan optimal, karena kebiasaan dalam membuang sampah masih dilakukan di sembarang tempat, di selokan, di pekarangan rumah dan di sungai.

Berdasarkan temuan tersebut, maka upaya peningkatan kualitas permukiman nelayan Bandengan dapat difokuskan melalui kegiatan pengelolaan lingkungan dengan perbaikan / penanganan saluran drainase (saluran limbah rumah tangga), penyediaan jamban dan pengelolaan sampah. Penentuan prioritas kegiatan dapat diambil dengan dasar kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat.

Peran masyarakat dalam perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan memang sudah ada, namun peran tersebut sangat minim sekali dan tidak dapat berkembang secara optimal. Hal ini karena pengetahuan masyarakat tentang sanitasi masih minim; adanya sistem nilai / hal yang ditabukan oleh masyarakat tentang jamban dalam rumah, sehingga masyarakat lebih memilih sungai atau laut dalam aktivitas buang hajat dengan alasan kepraktisan; serta masalah kemiskinan. Peningkatan peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui :

· Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang sanitasi melalui pendidikan sanitasi lingkungan dan kepedulian terhadap kesehatan keluarga

· Meningkatkan kualitas peran dan kemandirian kelembagaan nelayan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam

Terhadap permasalahan peningkatan kualitas sanitasi yang ada di kawasan permukiman nelayan Bandengan perlu dilakukan suatu pendekatan pemberdayaan atau model pemberdayaan agar tumbuh dan berkembang masyarakat sadar lingkungan. Penyadaran akan pentingnya lingkungan merupakan tahapan strategis yang mesti dilakukan secara terencana, terarah, sistematis, berkelanjutan dan komprehensif. Penyadaran harus dimulai dari lingkungan yang terkecil yaitu rumah tangga.

Penanganan permasalahan sanitasi lingkungan ini tidak mungkin ditangani sendiri oleh warga tanpa adanya bantuan dari pemerintah maupun pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini. Bantuan tidak hanya berupa stimulan namun diharapkan lebih dalam bentuk pendampingan dan pemberdayaan bagi peningkatan kesadaran akan potensi sendiri serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan potensi tersebut.